lets study

lets study

Sunday, March 21, 2021

Jenis Ilokusi

Jenis Ilokusi

Searle (1981) mengklasifikasikan jenis tindak tutur ilokusi ke dalam lima kelompok besar berdasarkan maksud penutur ketika berbicara, yaitu :

1. Asertif (assertive)

Tindak tutur asertif dalam bahasa Jepang disebut enjutsukoui ( 演述行為). Searle (1981:12-13) mengemukakan poin dari asertif adalah menyimpulkan penutur sesuatu berjaga-jaga, untuk mengeskpresikan kenyataan preposisi. Tindak tutur ini mempunyai fungsi memberitahu orang-orang mengenai sesuatu, mencakup bentuk menyatakan (stating), menyarankan (sugesting), membual (boasting), mengeluh (complaining), dan mengklaim (claiming). Contoh tindak tutur asertif dalam bahasa Jepang menurut Yamaoka (140-141) sebagai berikut:

雨が降っている。

Ame ga futteiru.

‘Hujan sedang turun’

Kalimat ‘雨が降っている’ tersebut dituturkan oleh teman kepada teman yang lainnya. Tuturan tersebut tidak hanya memberikan informasi kalau sedang hujan melainkan kalimat tersebut dimaksudkan untuk menyatakan bahwa tuturan tersebut sesuai dengan penggambaran fenomena cuaca dunia yang sering hujan. Dengan kata lain, kalimat tersebut mengandung nilai kebenaran yang dibuat sesuai dengan kondisi sebenarnya.

2. Direktif (directive)

Tindak tutur direktif dalam bahasa Jepang disebut shidoukoui ( 指動行為 ). Poin dari direktif adalah sesuatu hal atau upaya-upaya dari penutur untuk mendapatkan lawan tutur melakukan sesuatu. Contoh direktif adalah “I order you to leave” and “I command you to stand attention”. Tuturan ini merupakan bentuk tuturan yang dimaksudkan oleh si penuturnya untuk membuat pengaruh agar sang mitra tutur melakukan tindakan-tindakan yang dikehendaki seperti, memesan (ordering), memerintah (commanding), memohon (requesting), menasehati (advising) dan merekomendasi (recommending), izin (permit) (Searle, 1981:13-14).

Contoh tindak tutur direktif dalam bahasa Jepang menurut Yamaoka (140-141) sebagai berikut:

手を挙げろ。

Te wo agero.

‘Angkat tanganmu!’

Kalimat ‘手を挙げろ’ memiliki maksud bahwa penutur meminta mitra tutur agar mengikuti perintah penutur melakukan tindakan yang diperintahkan. Tuturan tersebut tidak hanya memberikan informasi agar mitra tutur mengangkat tangannya melainkan mitra tutur harus melakukan tindakan mengangkat tangan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh penutur.

3. Komisif (commissives)

Tindak tutur komisif dalam bahasa Jepang adalah washakousokukoui ( 話者拘束行為 ). Searle (1981:14-15) mengemukakan penutur akan melakukan tindakan di masa depan. Konten selalu penutur yang akan melakukan sesuatu. Tindak tutur ini berfungsi untuk menyatakan janji atau penawaran tertentu seperti berjanji, bersumpah dan menawarkan sesuatu. Contoh tindak tutur komisif dalam bahasa Jepang menurut Yamaoka (140-141), yaitu:

私は約束を守る。

Watashi wa yakusoku wo mamoru.

‘Saya akan menepati janji’

Kalimat’私は約束を守る’ bila diutarakan oleh teman yang sering mengingkari janji, maka kalimat tersebut tidak hanya memberikan informasi bahwa ia akan menepati janji tetapi tuturan tersebut mengikat penuturnya agar melaksanakan apa yang telah diujarkannya.

4. Ekspresif (expressive)

Tindak tutur Ekspresif dalam bahasa Jepang adalah hyoushutsukoui (表出行為). Searle (1981:15-16) mengemukakan tindak tutur ekspresif untuk mengekspresikan mental seseorang dan kondisi. Fungsinya yaitu berterimakasih, mengucapkan selamat, memberi maaf, memuji, mengucapkan bela sungkawa, selamat datang, menyayangkan. Contoh tindak tutur ekspresif dalam bahasa Jepang menurut Yamaoka (140-142), yaitu:

ありがとうございます。

Arigatou gozaimasu

‘Terima kasih’

Kalimat ‘ありがとうございます’ bila dituturkan oleh perempuan kepada laki-laki yang memberikan hadiah kepada perempuan, tuturan tersebut berfungsi untuk mengekspresikan perasaan senang perempuan itu karena telah diberi hadiah. Kalimat tersebut tidak hanya memberikan informasi saja, tetapi juga dimaksudkan agar ujaran tersebut diartikan sebagai evaluasi terhadap tindakan laki-laki yang telah memberikan hadiah tersebut.

5. Deklarasi (Declaration)

Tindak tutur deklarasi dalam bahasa Jepang adalah sengenkoui (宣言行為). Searle (1981:16-17) mengemukakan deklarasi beberapa perubahan status atau kondisi dari objek atau objek hanya untuk kebajikan. Tuturan ini menghubungkan antara isi tuturan dengan kenyataannya seperti bertaruh, berpasrah, memecat, menghukum. Contohnya, ketika kita mengundurkan diri dengan mengatakan ‘anda dipecat’ atau menikahi seseorang dengan mengatakan ‘saya bersedia’. Contoh tindak tutur deklarasi menurut Yamaoka (140-141):

明日から来ないでももらえるかな。

Ashita kara konai de moraeru kana.

‘Mulai besok tidak perlu datang lagi’

Kalimat ‘明日から来ないでももらえるかな’ apabila dituturkan pemilik toko kepada pegawainya yang sedang telah melakukan kesalahan. Kalimat ini selain memberikan informasi agar tidak perlu datang lagi tetapi juga dimaksudkan bahwa pegawai tersebut dipecat dan pekerjaannya dan pemilik toko melarang pegawainya itu untuk datang lagi besok dan seterusnya.

No comments:

Post a Comment