NEGARA MAJU DAN BERKEMBANG
INDIKATOR PENGGOLONGAN NEGARA MAJU DAN BERKEMBANG
Dasar yang dijadikan penggolongan suatu negara dalam kategori negara maju atau
berkembang dapat diketahui dari indikator-indikator dibawah ini :
a) Indikator kuantitatif (data yang dapat dihitung), yaitu :
1. Jumlah dan kepadatan penduduk
2. Tingkat pertumbuhan penduduk
3. Angka beban tanggungan
4. Usia harapan hidup.
b) Indikator kualitatif (data yang hanya dapat dibandingkan)
1. Etos kerja dan pola pikir
2. Tingkat pendidikan
3. Mata pencaharian
4. Tingkat kesehatan
5. Pendapatan
6. Tingkat kesadaran hukum
C.MODEL
PENGEMBANGAN WILAYAH DI NEGARA MAJU DAN NEGARA BERKEMBANG Pengembangan
wilayah adalah suatu upaya yang sengaja dilakukan dalam membangun dan
mengembangkan suatu wilayah secara fisik maupun sosial untuk mencapai kemajuan
dalam berbagai bidang kehidupan di wilayah bersangkutan. Orientasi pengembangan
wilayah di berbagai negara maju maupun negara berkembang tentunya berbeda-beda.
Hal itu antara lain disebabkan oleh kondisi fisik maupun sosial dari setiap
negara yang berbeda-beda pula. Namun, secara umum orientasi pengembangan
wilayah di negara maju dan negara berkembang dapat diuraikan sebagai berikut. 1. Model Pengembangan Wilayah di Negara Maju Negara maju
merupakan negara yang mempunyai ciri utama antara lain tingkat penguasaan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang tinggi serta aktivitas perekonomiannya berbasis
industri pengolahan (manufaktur) dan jasa. Melalui penguasaan ilmu pengetahuan
dan teknologi, negara maju mampu mengolah kekayaan sumber daya alam yang
terdapat di wilayahnya ataupun di wilayah negara lain melalui kerja sama
antarnegara secara efektif dan efisien. Proses pengolahan sumber daya alam
menjadi barang jadi dapat diartikan sebagai industrialisasi. Oleh karena itu,
negara maju sering pula disebut sebagai negara industri. Melalui
industrialisasi negara-negara maju mampu memacu pertumbuhan ekonominya yang
pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan nasional (GNP). Dengan demikian,
pendapatan per kapita penduduknya menjadi meningkat, dalam arti lain tingkat
kesejahteraan penduduk di negara maju secara ekonomi menjadi tinggi. Dari uraian
tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa orientasi model pengembangan wilayah di
negara maju yang paling utama adalah pemberdayaan sumber daya manusia secara
optimal melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Model pengembangan
wilayah yang berorientasi kepada pemberdayaan sumber daya manusia secara
optimal melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, mengakibatkan
negara-negara maju mampu mengatasi masalah-masalah sosial yang lebih kompleks,
seperti timbulnya daerah kumuh (slum area), kurangnya lapangan pekerjaan,
produktivitas tenaga kerja yang rendah dan tingkat pendapatan yang rendah serta
tingkat pendidikan yang rendah. Secara umum, pembangunan fisik di segala bidang
dapat berlangsung secara teratur dan terencana. Secara umum, negara-negara maju
mempunyai karakteristik sebagai berikut.a. Titik berat
perekonomiannya pada sektor industri dan jasa.b. Angka
harapan hidup tinggi.c. Tingkat kematian
bayi rendah.d. Tingkat
pendidikan penduduknya rata-rata tinggi.e. Tingkat
pendapatan per kapita penduduknya tinggi.f. Sebagian
besar penduduknya tinggal di wilayah perkotaan. 2. Model Pengembangan Wilayah di Negara Berkembang Secara umum
model pengembangan wilayah di negara-negara berkembang lebih menitikberatkan
pada sektor agraris, yaitu sektor-sektor yang berhubungan dengan upaya-upaya
pengolahan sumber daya alam secara langsung, seperti pertanian, perkebunan,
kehutanan, pertambangan dan perikanan sedangkan sektor industri cenderung hanya
merupakan upaya yang berskala kecil dan hanya terkonsentrasi di wilayah
perkotaan. Namun demikian, hasil produksi dari sektor agraris di negara-negara
berkembang mempunyai kecenderungan semakin menurun.
Hal ini antara
lain disebabkan oleh faktor-faktor berikut ini.a. Perubahan
fungsi lahan dari lahan agraris menjadi peruntukan lainnya karena dorongan
kebutuhan pokok penduduknya yang semakin bertambah terutama kebutuhan akan
perumahan sehingga luas lahan menjadi semakin berkurang yang tentunya berdampak
terhadap menurunnya hasil produksi sektor agraris.b. Hasil
produksi dari sektor agraris pada umumnya bersifat subsistence, artinya hasil
produksi hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri.c. Pengelolaan sektor
agraris belum menghasilkan produksi yang optimal karena belum menggunakan
alat-alat produksi yang modern.d. Beberapa
bagian dari sektor agraris terutama bidang peternakan di usahakan dalam bentuk
usaha sampingan sehingga hasilnya pun belum optimal.e. Beberapa
bagian dari sektor agraris terutama bahan tambang pada umumnya merupakan sumber
daya alam yang tidak dapat diperbarui (unrenewable resources) sehingga
ketersediaannya di alam semakin berkurang. Oleh karena
terjadinya kecenderungan penurunan hasil produksi di sektor agraris, model
pengembangan wilayah di negara-negara berkembang sekarang ini pada umumnya
adalah dengan mengubah titik berat pereko nomiannya dari sektor agraris ke
sektor industri. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan industrialisasi di
negara berkembang, antara lain sebagai berikut.a.
Industrialisasi merupakan proses pengolahan bahan mentah atau bahan baku yang
dihasilkan dari sektor agraris menjadi bahan setengah jadi atau barang jadi
sehingga mempunyai nilai guna dan nilai komersial yang lebih tinggi.b.
Industrialisasi merupakan salah satu sektor yang dapat memacu terjadinya
peningkatan arus barang dan jasa antarwilayah atau antarnegara.c.
Industrialisasi merupakan salah satu sektor yang dapat memacu terjadinya
penyerapan tenaga kerja dan peningkatan variasi lapangan kerja.d.
Industrialisasi merupakan salah satu sektor yang dapat memotivasi sumber daya
manusia untuk menguasai dan meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologinya.e.
Industrialisasi merupakan sektor yang dapat memacu terjadinya perubahan dari
masyarakat tradisional dengan taraf hidup rendah menjadi masyarakat modern
dengan taraf hidup yang lebih tinggi.Namun,
orientasi pembangunan dan pengembangan wilayah secara fisik maupun sosial dari
sektor agraris ke sektor industri di negara-negara berkembang seringkali
mendapat hambatan yang sangat berat.
Menurut Todaro
(1983), karakteristik umum negara-negara berkembang adalah sebagai berikut.a. Tingkat Kehidupan yang RendahPenduduk di
negara-negara berkembang pada umumnya mempunyai tingkat kehidupan yang rendah
yang dicirikan dengan angka harapan hidup yang rendah, angka kematian bayi yang
tinggi, pendapataan per kapita rendah, sarana dan prasarana kesehatan yang
kurang memadai, tingkat pendidikan yang rendah, dan kondisi perumahan yang
kurang layak huni. b. Tingkat Produktivitas yang RendahProduktivitas
tenaga kerja di negara-negara berkembang cenderung sangat rendah jika
dibandingkan dengan produktivitas di negara-negara maju. Faktor-faktor yang
menyebabkan rendahnya produktivitas tenaga kerja di negara-negara berkembang,
antara lain:1) kualitas
penduduk dalam hubungannya dengan keterampilan atau keahlian dan penguasaan
teknologi yang dimiliki oleh tenaga kerja di negara-negara berkembang masih
rendah;2) kepemilikan
modal yang rendah;3) manajemen
yang kurang baik;4) birokrasi
pemerintahan yang korup, kurang efektif, dan kurang efisien sehingga
menciptakan kondisi investasi yang kurang baik. c. Tingkat Pertumbuhan Penduduk dan Beban Tanggungan yang TinggiTingkat
pertumbuhan penduduk alami adalah angka pertumbuhan penduduk yang didapat dari
besarnya jumlah kelahiran dikurangi jumlah kematian penduduk pada suatu negara
dalam jangka waktu satu tahun. Di negara-negara berkembang, angka kematian
penduduk relatif tinggi, namun demikian besarnya angka kelahiran jauh lebih
tinggi. Akibatnya jumlah penduduk di negara-negara berkembang dari waktu ke
waktu selalu tetap bertambah. Oleh karena itu, negara-negara berkembang pada
umumnya mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggi yaitu rata-rata lebih dari 2%
per tahun, sedangkan negara-negara maju tingkat per tumbuhan penduduk
rata-ratanya kurang dari 2% per tahun. Akibat yang
ditimbulkan dari tingginya tingkat pertumbuhan penduduk di negara berkembang,
yaitu semakin banyaknya penduduk yang berusia muda 0–14 tahun yang jumlahnya
dapat mencapai lebih dari 30% dari total jumlah penduduk di suatu negara
berkembang. Kondisi kependudukan tersebut mengakibatkan beban tanggungan yang
tinggi bagi penduduk yang berusia produktif. Hal itu membawa dampak terhadap
pendapatan per kapita penduduk di negara berkembang yang juga menjadi rendah. d. Tingkat Pengangguran yang TinggiKondisi
ketenagakerjaan di negara-negara berkembang sebagian besar berupa tenaga
pengangguran. Sebagian dari tenaga kerja tersebut terlihat mempunyai pekerjaan,
tetapi sebenarnya merupakan pengangguran terselubung. Pengangguran terselubung
adalah tenaga kerja yang mem punyai pekerjaan tidak menentu (musiman) atau
tenaga kerja yang bekerja kurang dari 35 jam dalam waktu satu minggu. Tingginya
tingkat pengangguran di negara-negara berkembang, antara lain disebabkan oleh
jumlah tenaga kerja yang melebihi jumlah atau kapasitas lapangan pekerjaan
serta tenaga kerja yang mempunyai kualitas rendah atau tenaga kerja yang tidak
sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan oleh lapangan pekerjaan. e. Tingkat Kebergantungan terhadap Produksi Pertanian dan Ekspor Produksi
Primer yang TinggiProporsi jumlah
penduduk di negara-negara berkembang yang ber mukim di wilayah pedesaan pada umumnya
lebih tinggi daripada penduduk yang bermukim di wilayah perkotaan. Oleh karena
itu, mata pencarian penduduk di negara-negara berkembang pada umumnya di sektor
agraris, yaitu sektor yang mengolah produk-produk primer, seperti pertanian,
perkebunan, kehutanan, dan perikanan. Produk primer merupakan bahan ekspor yang
menjadi andalan negara berkembang dan menyumbang lebih dari 30% dari produk
domestik. Akibatnya, negara-negara berkembang selalu berada dalam posisi
defisit atau merugi, dibandingkan dengan negara-negara maju yang lebih banyak
mengandalkan ekspor dari produk industri manufaktur dan jasa. . Tingkat Kekuasaan Secara Ekonomi dan Politik yang RendahSecara ekonomi,
negara-negara berkembang mempunyai taraf hidup yang rendah, sedangkan negara-negara
maju mempunyai taraf hidup yang lebih tinggi. Dalam arti lain, negara
berkembang identik dengan negara dunia ketiga (negara kurang akaya atau tidak
kaya), sedangkan negara maju identik dengan negara kaya. Ketimpangan tersebut
mengakibatkan tingkat kekuasaan dan pengendalian secara ekonomi dan politik di
kancah internasional bagi negaranegara berkembang menjadi lemah atau rendah. g. Tingkat Kebergantungan terhadap Negara Maju yang TinggiKetimpangan
secara ekonomi dan sosial-politik antara negara maju dan negara berkembang
mengakibatkan negara-negara maju dengan mudah mengendalikan keadaan politik dan
perdagangan dunia dan mendikte negara-negara berkembang. Bentuk perlakuannya
antara lain melalui pemberian bantuan luar negeri (pinjaman atau utang), alih
teknologi dan relokasi industri dengan syarat-syarat dan cara-cara yang
ditentukan oleh negara-negara maju. Keadaan tersebut mengakibatkan
kebergantungan yang tinggi dari negara-negara berkembang terhadap negara-negara
maju. Pada akhirnya, menimbulkan sifat mudah terpengaruh (vulnerability)
terhadap negara maju baik secara ekonomi, sosial, politik, maupun budaya.Suatu negara dikatakan berkembang atau maju salah
satunya adalah dengan melihat pada keberhasilan pembangunan oleh negara yang
bersangkutan. Apabila negara tersebut belum dapat mencapai tujuan pembangunan
yang telah ditetapkan atau belum dapat menyeimbangkan pencapaian pembangunan
yang telah dilakukan. Sedangkan negara yang mampu menyeimbangkan pencapaian
pembangunan yang telah ditetapkan, sehingga sebagian besar tujuan pembangunan
telah dapat terwujud baik yang bersifat fisik ataupun nonfisik maka negara
tersebut dapat disebut negara maju.
Negara berkembang yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih maju
dibandingkan negara lain yang setingkat, tetapi belum mencapai tingkat negara
maju disebut negara industri baru (newly industrialized country/NICs). Dengan
kata lain, negara industri baru sedang berkembang mencapai tingkat negara maju
tetapi belum cukup untuk dikatakan sebagai negara maju.
No comments:
Post a Comment